Jokowi Bekerja Sama Dengan Malaysia

Awal bulan ini, publik dibuat geger oleh pemerintah. Presiden Joko Widodo muncul saat penandatangan kerja sama bidang otomotif dengan pabrikan asal Negeri Jiran Malaysia, Proton Holdings Berhad (Bhd). Jokowi hadir bersama dengan Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak.

Adalah perusahaan Abdullah Mahmud (AM) Hendropriyono, PT Adiperkasa Citra Lestari digadang bakal membuat mobil nasional. Perusahaan berkantor di Komplek Rumah Kantor Tendean Square, Jalan Wolter Monginsidi Nomor 122-124, Jakarta Selatan itu melakukan studi kelaikan atau feasibility study dan peluang kerja sama dalam mewujudkan mobil nasional.

Tentu munculnya kerja sama perusahaan dua negara ini menuai kritik. Banyak pihak menolak pemerintah menggandeng Proton untuk membuat mobil nasional. Apalagi rakyat Indonesia kadung tahu jika Jokowi terkenal dengan mobil Esemka. Mobil tersebut dituding menjadi kendaraan politik Jokowi menuju kursi Presiden.

Sejak menjadi Gubernur DKI Jakarta, mobil dipakai buat dinas ketika Jokowi menjadi Walikota Solo itu pun seolah tenggelam, seiring melejitnya popularitas ayah dari Kaesang Pangarep ini. Tentu rencana pemerintah menggandeng Proton untuk mewujudkan mobil nasional menjadi bulan-bulanan di tengah konflik KPK Vs Polri.

Lalu bagaimana dengan Sukiyat-sang perintis mobil Esemka. Menteri Perindustrian, Saleh Husin berencana bakal menjadikan mobil ditumpangi Jokowi ke Jakarta itu untuk menjadi kendaraan pedesaan. Sukiyat pun tak masalah dengan rencana itu. Namun dia meyakini jika mobil besutannya kelak bisa menyaingi pabrikan besar seperti Jeep yang mengeluarkan Rubicon dan Jaguar Land Rover dengan mobil gagahnya, Land Rover dan Range Rover.

"Mau nyaingi apa kek, mau menyaingi Rubbicon kek, mau nyaingi Rangerover kek bisa nanti kan tinggal dikerahkan tenaga ahli yang ada," kata Sukiyat melalui sambungan telepon semalam.

Lalu bagaimana tanggapan Sukiyat atas rencana pemerintah itu? Kepada merdeka.com, Sukiyat melihat sisi positif dengan digandengnya Proton masuk ke Indonesia. Berikut petikan wawancara Sukiyat kepada Arbi Sumandoyo soal mobil Esemka.

Bagaimana tanggapan anda soal rencana pemerintah menjadikan Esemka jadi mobil pedesaan?

Saya termasuk yang membuat, tidak apa-apa diawali dari mobil angkutan. Kita kan lihat pasar to mas, liat pasar kan baca dari Jepang, baca dari apa itu China, lihat kantong masyarakat itu apa yang dibutuhkan. Kalau kita sekarang bikin pribadi seperti yang itu, enggak laku ya percuma.

Anda setuju Proton dijadikan mobil nasional?

Proton itu nanti kan? Pertama produksi nantinya untuk angkutan umum, jika nanti ditaruh sebagai mobil pedesaan nanti kan juga sukses. Kalau nanti itu terwujud baru kita bikin mobil pribadi. Kalau Proton itu enggak masalah, kita nantinya bisa bersama-sama. Istilahnya, kita itu 3N: Neroke, Niteni, Nambahi gitu lho mas.

Artinya anda setuju?

Bahasanya jangan di pelintir, Proton jadi mobil nasional. Bahasanya tuh, Indonesia bikin mobil nasional oke. Kita oke bikin seperti itu, tapi kan lubang-lubang nantinya akan kita isi. Proton ganti nama jadi mobil nasional itu bukan. Bukan seperti itu. Jadi Indonesia tetap bikin, tapi kita itu belajar dari yang sudah ada itu dari Proton.

Jadi, bukan Proton bikin mobil nasional. Kita itu butuh kerja sama dengan Proton. Mau belajar dengan Jepang enggak mungkin, China enggak mungkin. Jadi kita bikin seperti apa itu, kira seperti knalpotnya dibikin di Banjarnegara.

Tetap gunakan produk lokal?

Iya bukan seperti itu. Bukan Proton ganti nama.

Tapi arah pemerintah mau menjadikan Proton mobil nasional?

Ya kalau dibikin cluster, misalnya Banjarnegara membuat knalpotnya. Solo bikin interiornya. Pemerintah tinggal siapkan modal dan regulasinya. Itu kan selesai. Jangan dipelintir, Proton setuju dipakai jadi mobil nasional, bukan begitu. Kita tidak berbicara mencari ini salah siapa, yang penting itu semua bisa terwujud dulu baru semua ngomong. Gitu lho mas. Supaya mobil bisa terwujud dulu. Itu kan waktu awal-awal pembicaraan presiden membuat mobil nasional dengan cara UKM. Jadi jangan semua pihak jangan banyak statement, biarkan itu terwujud.

Artinya anda setuju Mobil Esemka bakal jadi mobil pedesaan?

Jadi setelah bikin mobil pedesaan, nanti bikin yang baik untuk menyaingi hingga menjadi mobil nasional, tapi kan waktu. Kalau kita bangga mengirim tenaga kerja ke luar negeri, kita ngomong terus, padahal kita itu ada yang crowded, enggak usah banyak omong mas. Pertama bikin mobil jelek dulu, dari yang resikonya kecil. Kemudian nanti kalau mau bikin seperti Rubbicon, bisa. Tapi nanti lah, kita enggak usah muluk-muluk dulu, enggak usah banyak ngomong tapi bukti.

Bagaimana dengan kondisi Mobil Esemka sekarang?

Esemka itu sekarang sekolah itu biar belajar jangan dipikir untuk orang berbisnis. Kalau Esemka dibikin pabrik enggak bisa. Pendidikan silakan pendidikan. Nanti kalau guru menjadikan itu pendidikan umum to mas. Saat ini kita cuma bikin sembilan. Titik.

Masih produksi Mobil Esemka?

Ndak. Ndak, saya enggak buat. Saya bikin sembilan saja. Esemka itu kan sudah mulai bikin seperti itu jangan nanti turun ke bawah lalu audit.

Anda kecewa dengan Jokowi ketika Esemka dijadikan untuk kendaraan politik?

Itu nanti akan diwujudkan mas. Lihat nanti, Pak Iyat nanti di Jakarta, bikin itu nanti. Terwujud itu, jangan bingung. Tapi dimulai dari pedesaan dulu, nanti di mobil niaga lalu mobil pribadi. Mau nyaingi apa kek, mau menyaingi Rubbicon kek, mau nyaingi Range Rover kek bisa nanti kan tinggal dikerahkan tenaga ahli yang ada. Pak Sukiyat saja yang enggak lulus STM bisa, masa enggak bisa. Itu lho mas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel