Badan Intelijen Australia Beaksi Lagi

Badan Intelijen Australia atau ASIS – dahulu DSD – diduga memasang alat penyadap di ruang kabinet Timor Leste ketika program kemanusiaan berupa pembangunan gedung-gedung pemerintahan dilakukan di negara itu.

Menurut harian Sydney Morning Herald, Selasa 10 Desember 2013, kecurigaan itu dilontarkan Menteri Sumber Daya Alam Timor Leste, Alfredo Pires. Dia mengatakan hal ini seiring dugaan para ahli yang menyebut adanya penyalahgunaan program bantuan kemanusaan sebagai kamuflase untuk memasang alat penyadap.

“Kami pikir, kami telah berhasil mengidentifikasi sebuah tim yang melakukan aksi penyadapan tersebut. Nama-nama mereka pun telah kami kantongi,” ujar Pires. Tim yang dirujuk Pires terdiri dari empat orang – tiga laki-laki dan seorang perempuan.

Namun Pires tidak mau mengungkap identitas mereka di dunia maya demi keamanan orang-orang itu. Menurutnya, salah satu dari orang-orang itu kini bekerja di luar negeri dengan menggunakan nama yang sama. “Saya kira otoritas Australia juga sudah memeriksa mereka saat ini,” kata Pires.

Pires berhasil memperoleh nama-nama tersebut dari data penerbangan pesawat dan dokumen lainnya. Hasil investigasi juga mengungkap alat penyadap diselundupkan menggunakan kurir diplomatik. Alat tersebut diduga dipasang di ruang kerja Perdana Menteri dan ruangan diskusi anggota kabinet.

Preseden Buruk

Terungkapnya modus ini membuat gusar beberapa pihak, salah satunya Direktur Pusat Kebijakan di Universitas Nasional Australia, Stephen Howes. Menurut dia, tidak baik bagi agen pemberi bantuan untuk terlibat dalam aksi semacam ini.

“Jelas aksi ini akan mempengaruhi rasa percaya yang justru sangat diperlukan dalam pemberian program bantuan,” kata Howes.

Dia lantas merujuk kepada contoh kasus Badan Intelijen Amerika Serikat, CIA, ketika berupaya menangkap pimpinan kelompok Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Dengan menggunakan program vaksin polio, agen-agen bayaran berupaya memperoleh jejak Osama. Namun setelah modus itu terungkap, sembilan pekerja kesehatan Pakistan yang bertugas memberantas penyakit polio ikut terbunuh. PBB pun terpaksa menarik program tersebut.

Modus penyelundupan alat penyadap di Timor Leste, menurut mantan agen intelijen untuk militer Clinton Fernandes, perlu ditelusuri serius. “Penggunaan program bantuan untuk memfasilitasi aksi penyadapan, apabila terbukti benar, akan menjadi preseden buruk. Orang yang bertanggung jawab untuk program itu harus segera mengundurkan diri,” kata dia.

Pengacara yang mewakili Timor Leste di Pengadilan Internasional Den Haag Belanda, Bernard Collaery, menuduh operasi itu diperintahkan oleh mantan Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer.

Secara terpisah, Downer menolak berkomentar. Dia mengatakan,sudah menjadi prinsip bagi pejabat Negeri Kanguru untuk tak mengomentari masalah intelijen di depan publik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel